Kalimat
itu yang selalu kau tawarkan saat aku bercerita tentang ketidakadilan yang
kualami, baik yang serius maupun yang sepele, kalimat yang selalu ku hapal
dengan pasti, sembari menirukan gaya bicaramu. Kadang sesekali menggerutu,
"mama kenapa jadi orang sabar banget?” dan tidak menghiraukan lagi kalimat
demi kalimat yang saat ini tak akan pernah kudengar lagi dan aku pastikan aku
sangat merindukannya.
Di
waktu silam, hari kamis yang tak pernah aku lupakan, yang tak pernah ku bayangkan.
Hari saat langit tempatku berlindung luluh lantak, hari saat matahari tak
beranjak dari fajar, hari yang paling gelap dari semua hari yang ku ceritakan
padamu. Ya, hari itu kau pergi meninggalkan kami semua, kau menutup mata tanpa
memberiku aba-aba, kau membiarkan kami harus menerima kenyataan ini, bahwa kau
di usia yang masih muda untuk seorang Ibu, pergi meninggalkan empat orang
anakmu, dan tentu saja meninggalkan ayah dari anak-anakmu. Tubuh yang telah
melahirkan dan membesarkan anak-anakmu, dan kini hanya tergeletak kaku tanpa
satu kalipun kau menjawab pertanyaanku meskipun dengan kedipan matamu saja.
Tapi
aku pulang sekolah lebih lama, saat kabar yang aku dengar sangat jelas itu
bahkan tak ku mengerti maksudnya, “Mama udah gak ada”, aku pikir itu kalimat
yang sangat mudah dimengerti, tapi aku malah balik bertanya, “Mama siapa?”,
butuh waktu sekitar lima menit untuk mencerna arti kalimat itu, dan saat
sepupuku tak mampu menjawabnya, aku sadar bahwa kau telah kembali ke Sang
Pencipta. Aku sadar, aku tidak akan melihat senyummu lagi saat aku pulang.
Sadar
dengan apa yang akan ku hadapi nanti, aku bertekad dalam hati akan menjadi
pribadi yang kuat, setidaknya untuk mengikuti prosesi pemakaman mama hari ini.
Belum genap hitungan menit, pertahanan yang telah diproklamirkan dalam hati itu
luluh lantak, air mata tak berhenti mengalir, meskipun sekuat tenaga aku menahannya,
persendian seperti melemah, dan seluruh tenaga untuk menopang tubuh ku hilang
seketika.
Sampai
saat itu, aku belum tau bagaimana caranya untuk sampai di rumah secepat yang
aku bisa. Tidak lama berselang, tetanggaku datang menjemput, mereka hanya diam
tak berkata sedikitpun. Dengan mata yang masih bengkak, hanya merangkul dan
mengajakku untuk segera berangkat. Masih tidak ada suara percakapan, yang
terdengar sepanjang perjalanan hanya suara tangis yang kucoba sembunyikan,
sesekali terdengar agak keras, kemudian diam, dan menangis lagi.
Pagi
beranjak dengan pasti menuju siang, sudah kupastikan sebentar lagi prosesi
jenazah akan segera dimulai. Satu-persatu pelayat keluar masuk rumah. Aku tidak
ingat dengan pasti siapa saja yang datang. Aku hanya mengingat dengan jelas,
teman-temanku yang datang di sela-sela kesibukannya, melewati pelayat lain yang
duduk tak beraturan, memberikan pelukan, yang tak pernah aku lupakan,
memberikan pijatan yang mengurangi sedikit beban, tak pernah melepaskan
tanganku meskipun ku tau dengan pasti
Kain
putih dan aroma khas kematian itu semakin menyayat hidung, beberapa ibu-ibu
mulai memisahkan kapas dan mengukur kain kafan yang akan mengiringi perempuan
yang paling berarti dalam hidupku ke peristirahatan terakhirnya. Sesekali
kusempatkan melirik Papa, abang dan Kakakku, semuanya terlihat memaksakan diri
untuk kuat, tidak lagi menangis memang, hanya saja kerutan di dahi dan mata
yang bengkak. Aku tau itu sedih, aku tau itu guratan kehilangan.
Memandikan
dan mengafani, aku berdiri dan terlibat dalam proses itu. Antara sadar dan
tidak sadar, bahkan berdiri aku harus mengandalkan saudara-saudara terbaikku.
Aku berdiri tepat di sebelah kiri Mama, tapi pandanganku kabur tak jelas
melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Beberapa kali aku sempat jatuh, duduk
dan berdiri lagi. Aku benar-benar tidak kuat lagi.
Aku
ditopang dan memaksakan diri untuk berjalan menuju masjid di depan rumah,
sekejap saja, sholat jenazah telah selesai dilaksanakan. Perasaanku berkecemuk,
aku masih tidak menerima kenyataan, tapi aku tak bisa protes. Beberapa pemuda
dan bapak-bapak mulai mengangkat tandu menuju pemakaman. Terasa asing dan
sangat jauh sekali, tapi waktu tak akan berhenti berputar begitu saja.
Perlahan
kumulai memberanikan diri mendekat ke liang lahat. Setiap kali aku mendekat,
setiap kali itu juga aku terduduk, berdiri lagi, dan terduduk lagi, dan aku
dijauhkan dari liang lahat, takut akan mengganggu proses pemakaman. Tanah
terlihat sudah rata memenuhi lubang sedalam satu meter itu, aku mulai berontak,
aku ingin mendekat, biarkan saja meskipun aku terjatuh atau terduduk. Biarkan
saja, toh aku sudah tak bisa lagi melihat tubuh yang telah tertutup tanah itu.
Terdengar
seorang ustadz di pemakaman mulai membacakan doa dan pelayat pun serentak
menengadahkan tangan. Aku tak mampu menengadah, aku hanya terduduk sambil
menangis di samping gundukan tanah itu. Aroma bunga dan wangi-wangiannya
semakin sulit aku lupakan. Aku tak dibiarkan lama duduk di situ, aku mulai
dibopong lagi ke rumah, tak ada percakapan, diam saja, sesekali terdengar suara
menarik nafas panjang, tidak ada lagi tangisan mengharu biru waktu itu.
Semuanya terhenti.
Tapi
ada satu hal yang ingin aku sampaikan, aku tidak bermaksud mencoba melawan
takdir, seperti yang orang lain katakan, ketika kita tidak ikhlas berarti kita
tidak bisa menerima takdir. Bukan, aku terkejut dengan kejadian tiba-tiba
seperti itu dan itu bukan kejadian kecil untukku. Aku butuh waktu dan kekuatan
untuk menjalani kehidupanku yang baru, yang tentu saja akan berubah. Jangan
minta aku untuk tidak menangis lagi karena aku hanya rindu mama, aku rindu
semua tentangnya. Jangan minta aku untuk tidak memajang foto-fotonya di sosmed,
dengan caption yang sudah kupastikan “lebay”, aku hanya rindu, iya aku rindu
sesering itu.
Aku
rindu sosoknya, aku rindu tatapannya, aku rindu tangannya, aku rindu
dekapannya, aku rindu masakannya, aku rindu pagi saat bercengkrama sebelum aku
berangkat sekolah, aku rindu malam saat kita menghabiskan waktu di depan tv,
aku rindu hari Minggu yang kadang kita habiskan ke pasar hanya untuk mencicipi
makanan ringan, aku rindu merengek agar kau mengabulkan keinginanku, aku rindu
saat pulang ke rumah melihatmu menungguku, aku rindu bercerita apa saja
denganmu, aku rindu semua tentangmu. Kadang mereka tak mengerti aku serindu
itu, Ma.
Sudahlah,
kau benar tentang “semua ada hikmahnya”, semenjak kau pergi, aku tau bagaimana
lelahnya hari yang kau jalani untuk menjalankan peran sebagai ibu. Aku mulai
peka dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitarku, yang paling kuingat adalah
aku jadi gampang sekali terharu untuk bantuan-bantuan kecil yang aku terima.
Aku terharu untuk sesuatu yang menurut orang mungkin tidak penting. Aku mulai
berdamai dengan kondisi-kondisi dulu yang sering ku pertanyakan padamu, tapi
aku tak bisa berdamai jika rindu itu datang kapanpun ia mau.
Semoga
Engkau tenang di sana, maafkan aku, anakmu yang bahkan belum melakukan apa-apa
untuk kebahagiaanmu. Salam sayang anakmu.
Referensi:
https://www.hipwee.com/narasi/aku-rindu-sesering-semua-orang-memintaku-mengikhlaskanmu-mama/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar