Jumat, 06 Oktober 2017

MENUJU SENJA

Nama             : Hafni Masrifa
NPM               : 24214694
Kelas              : 4EB02
Mata Kuliah    : Etika Profesi Akuntansi


Pernah merasa jenuh terhadap semesta yang seolah segalanya seragam? Aku kerap, beberapa kali, saat tengah mencari bahkan ketika tak sengaja menemukan. Kau tahu bahwa dunia hanya memiliki dua warna? Bila tak benar-benar hitam, maka sepenuhnya ia putih. Tak pasti memang, sebab masih ada yang harus menjadi abu-abu di tengah segala kepastian yang dinilai oleh pribadi. Bagaimana rasanya menjadi berbeda di tengah hal-hal yang sudah biasa bahkan terbiasa untuk menjadi kebiasaan?
Sebenarnya aku mulai jengah dengan keadaan ini. Kita telah terbiasa mengikuti kata-kata kebanyakan orang daripada kata hati. Padahal tak semua kebanyakan membuat kita benar-benar nyaman bukan? Seharusnya kita tahu, keberagaman yang dibalut dengan alunan harmonisasi adalah suatu keseragaman yang hakiki. Harusnya kita sadari bahwa menjadi berbeda berarti membuat diri ini bagaikan kepingan puzzle yang hilang. Namun, semua itu tetap tak mudah selama kita sendiri belum saling memahami, belum mengerti akan makna persamaan.
Seringkali ada banyak pilihan yang kita berikan untuk orang lain agar mereka bisa memilih, pun begitu sebaliknya. Tak jauh berbeda tentang pendapat, tak mutlak harus segala yang didengar ditelan bulat-bulat atau cenderung diabaikan. Aku setuju bahwa nyaman bukan seperti kebanyakan kata mereka. Sebab nyaman hadir dari hal-hal yang kita senangi dan kita ijinkan untuk membersamai. Tapi pada bumi yang dipijak ini, rupa-rupanya ada hal yang tak bisa dipungkiri. Bahwasanya jengah akan kemonotonan yang dimaknai kerap berganti menjadi resah untuk akhirnya paham apa itu berbeda. Jadi perlukah kita menjadi jengah agar ada ragam yang tercipta?
Tentu saja, bukankah putaran sejarah telah memberikan bukti bahwasanya semua hal menakjubkan bermula dari keresahan? Keresahan pada setiap tragedi memunculkan kemanusiaan dan rasa jengah pada kemunafikan melahirkan hati baja yang memegang kebenaran. Harus ada yang tega untuk menenggelamkan dirinya pada sebuah resah tak berujung untuk memaknai bagaimana rasanya hidup di luar tempurung. Hidup itu begitu luar biasa apabila kita mencoba mengambil sudut pandang yang tak lazim diterka orang. Meraba-raba semua hal dari prespektif yang tak disangka sebelumnya, sehingga kita bisa melihat betapa luasnya dunia dan betapa kecilnya manusia di hadapan rahasia.
Pada akhirnya mungkin kita memang harus menjadi resah untuk mengerti apa itu berbeda. Pada akhirnya mungkin kita harus jengah untuk menunjukkan pada dunia ada warna yang tak melulu harus abu-abu agar bisa menjadi dianggap. Berhentilah menjadi serupa untuk bisa diterima, sebab kamu hanya perlu nyaman dengan sebenar-benarnya diri untuk bisa diterima dan menerima

Analisis:
Sulit memang menerima diri sendiri dan memaksakan untuk menyamakan diri dengan pencapaian orang lain. Padahal masing-masing manusia telah memiliki kehebatannya sendiri, memiliki caranya sendiri-sendiri. Karena kita tidak sadar, karena kita tidak sedang menjadi diri sendiri. Karena kita selalu melihat kepada orang lain.
Menjadi berbeda itu tidak selalu salah dan sama belum berarti benar. Sekarang waktunya kita untuk belajar dan tidak lagi menyabotase kekurangan, melainkan belajar untuk mengampuni diri dan belajar untuk selalu berproses. Kehidupan ini penuh dengan misteri dan kejutan. Banyak hal yang terjadi diluar kemampuan kita. Apapun masalah atau kondisi yang sedang kita jalani, berusahalah untuk tetap menjadi diri sendiri.
Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput  sendiri. Kita sering kali melihat hal-hal yang ada pada orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan, dan berharap kita dapat seperti ituJangan takut ditertawakan karena berbeda. Semua manusia bebas untuk berkomentar apapun, tetapi manusia yang baik akan berkomentar untuk membangun bukan justru sebaliknya.
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar