Nama : Hafni Masrifa
NPM : 24214694
Kelas : 4EB02
Mata Kuliah : Etika Profesi
Akuntansi
Pernah
merasa jenuh terhadap semesta yang seolah segalanya seragam? Aku kerap,
beberapa kali, saat tengah mencari bahkan ketika tak sengaja menemukan. Kau
tahu bahwa dunia hanya memiliki dua warna? Bila tak benar-benar hitam, maka
sepenuhnya ia putih. Tak pasti memang, sebab masih ada yang harus menjadi
abu-abu di tengah segala kepastian yang dinilai oleh pribadi. Bagaimana rasanya
menjadi berbeda di tengah hal-hal yang sudah biasa bahkan terbiasa untuk
menjadi kebiasaan?
Sebenarnya
aku mulai jengah dengan keadaan ini. Kita telah terbiasa mengikuti kata-kata
kebanyakan orang daripada kata hati. Padahal tak semua kebanyakan membuat kita
benar-benar nyaman bukan? Seharusnya kita tahu, keberagaman yang dibalut dengan
alunan harmonisasi adalah suatu keseragaman yang hakiki. Harusnya kita sadari
bahwa menjadi berbeda berarti membuat diri ini bagaikan kepingan puzzle yang
hilang. Namun, semua itu tetap tak mudah selama kita sendiri belum saling
memahami, belum mengerti akan makna persamaan.
Seringkali
ada banyak pilihan yang kita berikan untuk orang lain agar mereka bisa memilih,
pun begitu sebaliknya. Tak jauh berbeda tentang pendapat, tak mutlak harus
segala yang didengar ditelan bulat-bulat atau cenderung diabaikan. Aku setuju
bahwa nyaman bukan seperti kebanyakan kata mereka. Sebab nyaman hadir dari
hal-hal yang kita senangi dan kita ijinkan untuk membersamai. Tapi pada bumi
yang dipijak ini, rupa-rupanya ada hal yang tak bisa dipungkiri. Bahwasanya
jengah akan kemonotonan yang dimaknai kerap berganti menjadi resah untuk
akhirnya paham apa itu berbeda. Jadi perlukah kita menjadi jengah agar ada
ragam yang tercipta?
Tentu
saja, bukankah putaran sejarah telah memberikan bukti bahwasanya semua hal
menakjubkan bermula dari keresahan? Keresahan pada setiap tragedi memunculkan
kemanusiaan dan rasa jengah pada kemunafikan melahirkan hati baja yang memegang
kebenaran. Harus ada yang tega untuk menenggelamkan dirinya pada sebuah resah
tak berujung untuk memaknai bagaimana rasanya hidup di luar tempurung. Hidup
itu begitu luar biasa apabila kita mencoba mengambil sudut pandang yang tak
lazim diterka orang. Meraba-raba semua hal dari prespektif yang tak disangka
sebelumnya, sehingga kita bisa melihat betapa luasnya dunia dan betapa kecilnya
manusia di hadapan rahasia.
Pada
akhirnya mungkin kita memang harus menjadi resah untuk mengerti apa itu
berbeda. Pada akhirnya mungkin kita harus jengah untuk menunjukkan pada dunia
ada warna yang tak melulu harus abu-abu agar bisa menjadi dianggap. Berhentilah
menjadi serupa untuk bisa diterima, sebab kamu hanya perlu nyaman dengan
sebenar-benarnya diri untuk bisa diterima dan menerima
Analisis:
Sulit
memang menerima diri sendiri dan memaksakan untuk menyamakan diri dengan
pencapaian orang lain. Padahal masing-masing manusia telah memiliki
kehebatannya sendiri, memiliki caranya sendiri-sendiri. Karena kita tidak
sadar, karena kita tidak sedang menjadi diri sendiri. Karena kita selalu
melihat kepada orang lain.
Menjadi
berbeda itu tidak selalu salah dan sama belum berarti benar. Sekarang waktunya
kita untuk belajar dan tidak lagi menyabotase kekurangan, melainkan belajar
untuk mengampuni diri dan belajar untuk selalu berproses. Kehidupan ini penuh dengan
misteri dan kejutan. Banyak hal yang terjadi diluar kemampuan kita. Apapun
masalah atau kondisi yang sedang kita jalani, berusahalah untuk tetap menjadi
diri sendiri.
Rumput
tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri. Kita sering kali melihat hal-hal yang
ada pada orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan, dan berharap kita dapat
seperti itu. Jangan
takut ditertawakan karena berbeda. Semua manusia bebas untuk berkomentar
apapun, tetapi manusia yang baik akan berkomentar untuk membangun bukan justru
sebaliknya.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar