KONDISI
PEREKONOMIAN INDONESIA PADA TAHUN 2014
Disusun Oleh:
HAFNI MASRIFA
(24214694)
FAKULTAS
EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
Kelas
: 1EB02
Dosen
:Aditya Ramadhan, SE
- Kondisi Ekonomi Global
Tahun 2014 merupakan tahun pemulihan
dan stabilisasi ekonomi akibat fenomena kebangkrutan Lehman Brothers pada tahun
2008 serta krisis Eropa di Yunani pada tahun 2012. Untuk mengatasi fenomena
krisis yang menimbulkan kepanikan pasar finansial global khususnya di Eropa dan
AS tersebut, Amerika Serikat membuat sebuah kebijakan ekonomi yang tidak lazim
yakni kebijakan Quantitative Easing. QE adalah salah satu kebijakan moneter yang
dilakukan oleh bank sentral suatu negara guna meningkatkan jumlah uang beredar
(money supply) di pasar. Kebijakan ini dilakukan antara lain dengan
memangkas bunga menjadi 0,25% bahkan 0,1%, mencetak uang lebih banyak, serta
dengan menyuntikkan likuiditas kepada Emerging Markets (EM). Kebijakan
QE tersebut menyebabkan kelebihan likuiditas yang membuat pasar Amerika tidak
dapat menyerap uang yang beredar. Hal tersebut membuat para investor lebih
tertarik untuk mengalihkan dananya dari negara maju ke negara Emerging
Markets (EM) sehingga menimbulkan euforia sementara kepada negara-negaraEM
yang kebanyakan adalah negara berkembang.
Kebijakan Quantitative Easing
yang dirasa cukup berhasil memulihkan ekonomi global tersebut ditakutkan
hanyalah pemulihan semu (liquidity traps) bagi ekonomi dunia, yakni
semakin tergantungnya negara-negara EM terhadap pinjaman dana negara asing
dengan bunga rendah dan ditakutkan skenario krisis ekonomi dunia akan berulang.
Selain itu, kebijakan debt ceiling (pembatasan hutang) per 7 Februari
2014 juga menimbulkan tantangan lain.
- Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2014
Perekonomian Indonesia memiliki
kasus yang hampir mirip dengan negara India, yaitu maraknya serangan spekulan
serta defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan pada tahun 2013
telah mencapai angka 3,5%. Akan tetapi, jika keadaan ekonomi dan konsumsi/impor
dapat ditekan untuk tahun 2014 maka defisit hanya akan mencapai angka 2,8%.
Keadaan defisit neraca tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1997.Hal
ini disebabkan oleh dua hal yaitu berubahnya negara Indonesia menjadi negara net
oil importir sejak tahun 2003 setelah dulunya Indonesia adalah negara net
oil exportir. Alasan kedua adalah sebelum terjadinya krisis moneter, setiap
kali terjadi defisit, negara Indonesia selalu di-supply dana oleh
IGGI/CGI. Semenjak pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik dan Indonesia
digolongkan sebagai negara menengah, pinjaman CGI/IGGI sekarang lebih bersifat
komersiil. Kini, dengan adanya kedua faktor tersebut, Indonesia semakin
tertekan. Ditambah dengan hasil ekspor yang kurang mencukupi, cicilan imbal
hasil yang tinggi, serta meningkatnya subsidi.
Kondisi defisit neraca perdagangan
tersebut diperparah dengan berubahnya life style masyarakat Indonesia.
Terlebih saat periode menurunnya tingkat suku bunga BI Rate di
Indonesia, tingkat konsumsi semakin menjadi-jadi karena banyaknya masyarakat
yang mengambil kredit untuk barang konsumsi. Padahal, sebagian besar barang
konsumsi kita (misal alat-alat elektronik, makanan di restoran, pakaian, dsb.)
adalah barang impor. Jika konsumsi Indonesia tidak ditekan, impor negara
Indonesia tidak akan sanggup mengimbangi ekspor luar negeri dan pada akhirnya
defisit neraca perdagangan akan semakin besar.
Indonesia pernah mengalami masa
kejayaan setelah mengalami keterpurukan akibat krisis moneter tahun 1997-1998.
Jika Indonesia menengok ke arah 5 tahun ke belakang (2008-2012), dapat
dikatakan bahwa lima tahun lalu adalah lima tahun penuh kelimpahan (5 years
of plenty). PDB kita terus menguat dari 6,0% menjadi 6,5%, BI rate
menurun dari 9,5% menjadi 5,75%, dan menguatnya Rupiah. Kondisi kejayaan
tersebut disebabkan oleh booming-nya komoditas Indonesia (harga
barang-barang komoditas naik sehingga hasil ekspor tinggi) serta inflow modal
(banjir likuiditas akibat QE). Akan tetapi, dengan tidak adanya reformasi
stuktural yang meliputi pembenahan infrastruktur, produktivitas, serta pasar
tenaga kerja, menyebabkan kondisi kelimpahan tersebut kembali ke kondisi normal
pada tahun 2013. PDB yang terus menurun menjadi +/- 5%, BI rate terus
meningkat hingga mencapai angka 8%, serta imbal hasil SUN 10Y yang mencapai
>8% semakin menambah beban negara.
Menengok kondisi Indonesia saat ini
yang dapat dikatakan menurun dibandingkan lima tahun lalu, serta kekhawatiran
akan kondisi masa depan, maka perancangan sistematis pembangunan menjadi sangat
penting untuk dilakukan. Semenjak GBHN dihapuskan, negara Indonesia mengalami
kebingungan arah pembangunan sebab saat ini Indonesia hanya bergantung pada RJP.
Kondisi keterpurukan Indonesia
akibat tapering USA tersebut memang membawa dampak signifikan bagi
perekonomian Indonesia. Tahun 2013 Indonesia menjadi negara dengan perekonomian
terburuk di Asia serta nomor 2 di dunia setelah Argentina dan Peso.
- Langkah Kebijakan Ekonomi Indonesia Tahun 2014
Setelah sejenak kita melihat
perbandingan pembangunan ekonomi Indonesia dengan negara lain, sekarang kita
lihat langkah kebijakan apa saja yang telah diambil oleh Indonesia sebagai
langkah preventif untuk mengurangi defisit neraca berjalan pada tahun 2014.
Menurut Gubernur BI, bagaimanapun juga, ekspor Indonesia tidak akan dapat
ditingkatkan karena hal tersebut di luar kendali Indonesia. Harga barang
komoditas sangat terancam oleh prospektus revolusi shale gas di USA.
Terlebih adanya larangan ekspor atas beberapa logam antara lain nikel dan
bauksit, tentu saja membuat neraca perdagangan Indonesia semakin minus. Dari
perhitungan didapatkan bahwa pelarangan ekspor atas nikel dan bauksit itu
sendiri menyumbang defisit sebesar 0,2%.
Oleh karena itu, jalan satu-satunya
yang diambil oleh Gubernur BI adalah dengan menekan pola konsumsi masyarakat
yang kebanyakan merupakan konsumsi barang-barang impor. Cara pertama adalah
dengan menaikkan Pajak Penghasilan atas impor sebagaimana secara eksplisit
telah terlihat pada PMK-175/PMK.011/2013, bahwa impor baik dengan API maupun
tanpa API atas barang-barang tertentu (sebagian besar barang-barang konsumsi),
tetap dikenakan tarif 7,5% (sebelumnya impor barang dengan API hanya dikenakan
tarif 2,5%. Langkah kedua adalah dengan meningkatkan PPnBM atas impor
barang-barang yang tergolong lux, misalnya gadget, smartphone,
dsb.Kebijakan selanjutnya yang diluncurkan BI adalah penurunan jumlah kredit.
Selain itu, kondisi cuaca yang tidak
mendukung pada awal tahun 2014 ini tentu saja mempengaruhi kondisi perekonomian
negara Indonesia. Diperkirakan akibat meluasnya banjir, barang-barang konsumsi
akan semakin langka sehingga akan terjadi inflasi sebesar 8,4%. Akan tetapi
akan inflasi tersebut akan turun ke base 5%-6% pada bulan Juni ketika
cuaca mulai membaik.
Beberapa faktor utama yang
memperburuk perekonomian Indonesia adalah belum jelasnya aturan mengenai daftar
negara yang boleh dan tidak boleh berinvestasi di Indonesia sehingga membuat
investor menjadi enggan untuk berinvestasi di Indonesia. Kemudian kebijakan LTV
(Loan To Value) yang lebih memperketat penyaluran kredit untuk otomotif
serta rumah kedua dst. membuat pertumbuhan sektor properti dan otomotif sedikit
melamban. Adanya kesenjangan UMR antara daerah dengan Jakarta membuat banyaknya
tenaga kerja yang berpindah ke kota serta memicu relokasi pabrik-pabrik di
daerah. Pada akhirnya, tenaga kerja yang tidak berpindah akan mengalami
kehilangan pekerjaan sehingga ancaman kredit macet properti akan meningkat
akibat meningkatnya pengangguran.
Akan tetapi, di tengah faktor
penekan ekonomi Indonesia sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya pada
awal-awal tahun 2014, diharapkan diakhir tahun 2014 perekonomian Indonesia akan
membaik. Faktor-faktor positif lainnya yang juga dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi di Indonesia adalah adanya sektor dollar earner misalnya
konsumsi, transportasi, pariwisata. Selain itu daya beli masyarakat yang tinggi
akibat meningkatnya UMR juga dapat menjadi stimulus untuk konsumsi dalam
negeri. Kenaikan suku bunga pada level 8% akan menjadi daya tarik tersendiri
bagi investor. Ditambah dengan adanya wacana subsidi BBM yang tetap sehingga
risiko fiskal menjadi rendah, mampu menambah rating Indonesia di mata investor.
Akhirnya, dengan menganalisis
kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah serta faktor-faktor
positif dan negatifnya, analis ekonom Indonesia optimis bahwa pertumbuhan
ekonomi Indonesia akan meningkat 0,2% dari realisasi pertumbuhan ekonomi tahun,
yaitu menjadi 5,8% dari angka 5,6%.
Sumber:http://m.kompasiana.com/post/read/631625/1/sekilas-ekonomi-indonesia-2014.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar